
Tahun 1951, seorang pastur berkebangsaan Belanda,
Meneer Verhoeven menemukan gua ini. Menurut Ranger Gua Batu Cermin, Aven,
Verhoeven datang ke sini untuk meneliti. Gua ini mulai menjadi objek wisata lokal pada tahun 1986. Sedangkan, gua batu ini mulai terdengar di telinga wisatawan internasional pada tahun 1993.
Butuh waktu 10 menit berjalan kaki untuk mencapai
mulut gua. Jalan setapak dengan blok rata akan menemani Anda hingga ke pintu
masuk gua. Batang bambu yang melengkung dan bersilangan membentuk kanopi alam
yang terasa seperti terowongan. Sangat cantik dipandang mata
Serambi gua dipenuhi dengan bebatuan kokoh yang
menjulang tinggi. Untuk masuk ke dalam gua, harus menggunakan penerangan
seperti senter karena di dalam benar-benar gelap gulita. Selain itu, mulut gua
yang terbilang kecil juga memiliki stalaktit yang lumayan tajam, sehingga turis
harus berhati-hati.
Angin sejuk akan berhembus menyapa saat masuk ke
dalam gua. Semakin masuk ke dalam, semakin terpana akan dibuatnya. Bebatuan
stalaktit yang berkilau cantik tersebar di kiri dan kanan gua. Kilau batu ini
berasal dari kandungan garam yang ada di air yang mengalir saat hujan turun.
Entah darimana asalnya, air hujan yang seharusnya tawar memiliki kandungan
garam.
Yang harus diperhatikan di sini adalah dilarang
menyentuh stalaktit terlalu intens. Karena bebatuan ini memiliki sifat seperti
makhluk hidup yaitu tumbuh. Batu ini bisa tetap berkilau dan semakin membesar
jika tidak terlalu banyak disentuh. Secuil bagian dari sebuah batu cantik ini
terlihat kusam karena pernah ada yang memotek ujung batu. Hal ini tentu merusak
alam dan mengurangi keindahan dari objek wisata tersebut tentunya
No comments:
Post a Comment